Praktek penggembalaan sapi di perkebunan sawit dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, seperti mengurangi biaya pemeliharaan rumput bawah, meningkatkan produktivitas sawit dan sapi, mengurangi penggunaan herbisida dan pupuk kimia, meningkatkan kesuburan tanah, menyerap karbon, meningkatkan biodiversitas ekosistem, dan mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, praktek ini juga memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan sistem yang produktif dan berkelanjutan sesuai dengan kondisi lokal. Penelitian-penelitian diperlukan untuk membuktikan dampak negative dan positif, sehingga memberikan solusi dan keyakinan dalam implementasinya. Untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif tersebut, perlu adanya pengelolaan yang baik dan sesuai dengan kondisi lokal, seperti memilih jenis sapi yang cocok, mengatur jarak dan ketinggian pagar listrik, memantau kondisi tanaman sawit dan sapi secara berkala, menerapkan manajemen kesehatan hewan yang baik, dan membuat perjanjian kerjasama yang jelas antara petani sawit dan peternak sapi. Namun demikian, selain dampak negatif, hal yang paling dominan dan mendorong optimistik semua pihak adalah dampak positif yang mungkin timbul dari sistem integrasi sawit-sapi, yaitu sebagai berikut:A group of animals eating from troughs

Description automatically generated with low confidence

  1. Mengurangi biaya pemeliharaan rumput bawah di perkebunan sawit, karena sapi dapat memakan rumput sebagai pakan.
  2. Meningkatkan produktivitas sawit dan sapi, karena sapi dapat memberikan pupuk organik yang meningkatkan kesuburan tanah dan kesehatan tanaman sawit, serta sapi dapat tumbuh lebih baik dengan pakan yang cukup dan berkualitas.
  3. Mengurangi penggunaan herbisida dan pupuk kimia, yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan kesehatan manusia. 
  4. Meningkatkan penyerapan karbon, karena sistem integrasi sawit-sapi dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dari perkebunan sawit dan meningkatkan stok karbon di tanah dan biomassa.
  5. Meningkatkan biodiversitas ekosistem, karena sistem integrasi sawit-sapi dapat menyediakan habitat dan sumber pakan bagi berbagai jenis flora dan fauna, serta mengurangi tekanan terhadap hutan alam.
  6. Meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat, karena sistem integrasi sawit-sapi dapat memberikan sumber pendapatan tambahan bagi petani sawit dan peternak sapi, serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan produksi minyak nabati dan protein hewani.
  7. Meningkatkan kerjasama antara petani sawit dan peternak sapi, serta antara pihak-pihak terkait lainnya, seperti pemerintah, perusahaan, LSM, dan akademisi.

Cara mengukur dampak dari sistem integrasi sawit-sapi adalah sebagai berikut:

  1. Mengukur dampak ekonomi, yaitu dengan menghitung perubahan pendapatan, biaya produksi, dan laba bersih dari petani sawit dan peternak sapi yang terlibat dalam sistem integrasi sawit-sapi, serta membandingkannya dengan petani sawit dan peternak sapi yang tidak terlibat dalam sistem integrasi sawit-sapi.
  2. Mengukur dampak sosial, yaitu dengan menghitung perubahan kesejahteraan, partisipasi, kepercayaan, komunikasi, dan konflik antara petani sawit dan peternak sapi yang terlibat dalam sistem integrasi sawit-sapi, serta membandingkannya dengan petani sawit dan peternak sapi yang tidak terlibat dalam sistem integrasi sawit-sapi.
  3. Mengukur dampak lingkungan, yaitu dengan menghitung perubahan kualitas tanah, produktivitas tanaman sawit, biodiversitas ekosistem, emisi gas rumah kaca, dan deforestasi di lahan perkebunan sawit yang terlibat dalam sistem integrasi sawit-sapi, serta membandingkannya dengan lahan perkebunan sawit yang tidak terlibat dalam sistem integrasi sawit-sapi.

Indikator atau parameter yang digunakan untuk mengukur produktivitas sawit dan sapi adalah sebagai berikut:

  1. Jumlah tandan buah segar (TBS) dan minyak sawit mentah (CPO) yang dihasilkan per hektar per tahun, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah TBS yang dipanen dan dikirim ke pabrik pengolahan, serta jumlah CPO yang dihasilkan dari TBS tersebut.
  2. Bobot badan dan karkas sapi yang dipotong atau dijual, yang dapat diukur dengan cara menimbang bobot badan sapi sebelum dan sesudah dipotong, serta bobot karkas sapi setelah dipotong.
  3. Laju pertumbuhan bobot badan sapi, yang dapat diukur dengan cara menimbang bobot badan sapi secara berkala dan menghitung perbedaan bobot badan antara dua waktu pengukuran.
  4. Konversi pakan sapi, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah pakan yang dikonsumsi oleh sapi dan membandingkannya dengan pertambahan bobot badan sapi.
  5. Reproduksi sapi, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah kelahiran, kematian, dan kesuburan sapi dalam suatu periode waktu.

Indikator atau parameter yang digunakan untuk mengukur penghematan biaya pemeliharaan rumput bawah, herbisida, dan pupuk kimia adalah sebagai berikut:

  1. Jumlah rumput bawah yang dikonsumsi oleh sapi per hektar per tahun, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah sapi yang menggembala dan lama waktu penggembalaan di perkebunan sawit.
  2. Jumlah herbisida dan pupuk kimia yang digunakan per hektar per tahun, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah herbisida dan pupuk kimia yang dibeli dan digunakan di perkebunan sawit.
  3. Biaya pemeliharaan rumput bawah, herbisida, dan pupuk kimia per hektar per tahun, yang dapat diukur dengan cara menghitung biaya pembelian dan penggunaan herbisida dan pupuk kimia, serta biaya tenaga kerja untuk pemeliharaan rumput bawah.
  4. Penghematan biaya pemeliharaan rumput bawah, herbisida, dan pupuk kimia per hektar per tahun, yang dapat diukur dengan cara menghitung selisih antara biaya pemeliharaan rumput bawah, herbisida, dan pupuk kimia sebelum dan sesudah sistem integrasi sawit-sapi.

Indikator atau parameter yang digunakan untuk mengukur stok karbon di tanah dan biomassa adalah sebagai berikut:

  1. Jumlah karbon organik dan nitrogen di tanah, yang dapat diukur dengan cara mengambil sampel tanah dari kedalaman tertentu dan menganalisis kandungan karbon organik dan nitrogennya menggunakan metode kimia.
  2. Jumlah biomassa hidup di atas dan di bawah tanah, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah dan ukuran pohon, semak, rumput, akar, dan mikroorganisme yang hidup di perkebunan sawit dan mengkonversinya menjadi kandungan karbon menggunakan faktor konversi.
  3. Jumlah biomassa mati seperti kayu mati dan serasah, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah dan ukuran kayu mati dan serasah yang ada di perkebunan sawit dan mengkonversinya menjadi kandungan karbon menggunakan faktor konversi.
  4. Stok karbon total di tanah dan biomassa, yang dapat diukur dengan cara menjumlahkan jumlah karbon organik dan nitrogen di tanah, biomassa hidup di atas dan di bawah tanah, dan biomassa mati.

Indikator atau parameter yang digunakan untuk mengukur biodiversitas ekosistem adalah sebagai berikut:

  1. Jumlah dan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang hidup di perkebunan sawit yang terintegrasi dengan sapi, yang dapat diukur dengan cara melakukan sampling atau inventarisasi spesies yang ada di perkebunan sawit menggunakan metode seperti transek, plot, jebakan, atau kamera.
  2. Jumlah dan keanekaragaman jenis spesies atau kelompok spesies yang memiliki nilai konservasi tinggi atau karakteristik untuk fitur habitat tertentu, seperti spesies endemik, langka, terancam punah, atau indikator, yang dapat diukur dengan cara yang sama seperti di atas.
  3. Jumlah dan keanekaragaman jenis ekosistem atau habitat yang ada di perkebunan sawit yang terintegrasi dengan sapi, yang dapat diukur dengan cara mengklasifikasikan tipe ekosistem atau habitat berdasarkan karakteristik fisik dan biologisnya menggunakan metode seperti penginderaan jauh atau peta.
  4. Heterogenitas dan konektivitas ekosistem atau habitat di perkebunan sawit yang terintegrasi dengan sapi, yang dapat diukur dengan cara menghitung variasi spasial dan temporal dari tipe ekosistem atau habitat dan tingkat keterhubungan antara mereka menggunakan metode seperti indeks lanskap atau model spasial.

Indikator atau parameter yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat adalah sebagai berikut:

  1. Tingkat pendapatan, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah pendapatan per kapita atau per rumah tangga dari sumber-sumber seperti penjualan sawit, sapi, atau produk lainnya.
  2. Tingkat kesehatan, yang dapat diukur dengan cara menghitung angka harapan hidup, angka kematian bayi, angka kesakitan, atau akses ke fasilitas kesehatan.
  3. Tingkat pendidikan, yang dapat diukur dengan cara menghitung angka melek huruf, angka partisipasi sekolah, angka lulusan sekolah, atau akses ke fasilitas pendidikan.
  4. Tingkat ketahanan pangan, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah dan kualitas pangan yang dikonsumsi atau diproduksi oleh masyarakat.
  5. Tingkat partisipasi sosial, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah dan jenis kegiatan sosial yang dilakukan atau diikuti oleh masyarakat.

Indikator atau parameter yang digunakan untuk mengukur kerjasama antara petani sawit dan peternak sapi adalah sebagai berikut:

  1. Tingkat kepercayaan, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah dan persentase petani sawit dan peternak sapi yang saling percaya dan menghormati hak dan kewajiban masing-masing.
  2. Tingkat komunikasi, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah dan frekuensi interaksi antara petani sawit dan peternak sapi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  3. Tingkat konflik, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah dan intensitas permasalahan atau perselisihan yang terjadi antara petani sawit dan peternak sapi, serta cara penyelesaiannya.
  4. Tingkat manfaat, yang dapat diukur dengan cara menghitung jumlah dan jenis manfaat yang dirasakan oleh petani sawit dan peternak sapi dari sistem integrasi sawit-sapi, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

Manfaat sistem integrasi sawit-sapi antara lain adalah meningkatkan produktivitas dan kualitas minyak sawit dan daging sapi, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani sawit dan peternak sapi, mengurangi biaya pemeliharaan rumput bawah dan pupuk kimia, mengurangi emisi gas rumah kaca dan deforestasi, meningkatkan kualitas tanah dan biodiversitas ekosistem, serta meningkatkan ketahanan pangan nasional.  Tantangan sistem integrasi sawit-sapi antara lain adalah kurangnya modal untuk melaksanakan integrasi, kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang manfaat dan cara integrasi sawit-sapi, adanya persepsi atau kekhawatiran bahwa sapi akan merusak tanaman sawit, menyebarkan penyakit, atau menimbulkan konflik dengan petani lain, kurangnya dukungan dari pihak terkait lainnya, serta adanya ketimpangan kekuasaan atau ketidakadilan dalam kerjasama antara petani sawit, peternak sapi, pemerintah, perusahaan, LSM, dan akademisi.A person standing next to a group of cows

Description automatically generated with medium confidence

Dirangkum dari berbagai sumber. File PDF tersedia di www.siskaforum.org 

Penulis : Wahyu Darsono/Sekjend GAPENSISKA.

Rekomendasi teknis untuk mengukur dampak integrasi sapi kelapa sawit dalam mendukung perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, sebagai berikut :

  1. Pengukuran Efisiensi Lahan: (a) Mengukur produktivitas lahan perkebunan kelapa sawit sebelum dan setelah implementasi integrasi sapi. (b) Menganalisis efisiensi penggunaan lahan dalam menghasilkan hasil pertanian dan peternakan. (c) Mengukur keuntungan ekonomi dari penggunaan lahan yang terintegrasi.
  2. Analisis Kualitas Tanah dan Kelestarian Lingkungan: (a) Mengukur perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sebagai indikator keberlanjutan. (b) Menilai tingkat erosi tanah sebelum dan setelah implementasi integrasi sapi kelapa sawit. (c) Menganalisis tingkat pencemaran limbah kelapa sawit yang berkurang melalui pemanfaatan limbah sebagai pupuk organik.
  3. Penilaian Kesejahteraan Sosial dan Ekonomi: (a) Mengukur peningkatan pendapatan petani yang terlibat dalam integrasi sapi kelapa sawit. (b) Menilai dampak integrasi terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan taraf hidup petani. (c) Menganalisis kontribusi integrasi terhadap diversifikasi ekonomi di wilayah tersebut.
  4. Evaluasi Kinerja Peternakan:  (a) Mengevaluasi produktivitas sapi dalam integrasi sapi kelapa sawit. (b) Mengukur kesehatan dan kondisi tubuh sapi serta tingkat keberhasilan reproduksi. (c) Menilai efisiensi pakan dan pengelolaan kesehatan ternak dalam integrasi sapi kelapa sawit.
  5. Penilaian Dampak Lingkungan: (a) Menganalisis pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pengolahan limbah kelapa sawit dan penggunaan pupuk organik. (b) Mengukur keanekaragaman hayati dan keberlanjutan lingkungan di sekitar perkebunan kelapa sawit yang menerapkan integrasi sapi.
  6. Pemantauan Indikator Berkelanjutan: (a) Mengidentifikasi indikator berkelanjutan yang relevan, seperti penggunaan air, penggunaan energi, penggunaan pupuk kimia, dan penggunaan pestisida. (b) Melakukan pemantauan dan pelaporan rutin terkait indikator berkelanjutan ini untuk memastikan perkebunan kelapa sawit tetap memenuhi prinsip keberlanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *